ratughibah – Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Trisakti, Faiz Nabawi, secara tegas mengusulkan agar Monumen Tragedi 12 Mei 1998 dibongkar. Monumen yang berdiri tidak jauh dari kampus Universitas Trisakti itu selama ini dianggap sebagai simbol perjuangan reformasi. Namun, menurut Faiz, semangat reformasi yang dahulu diperjuangkan dengan penuh pengorbanan kini telah hancur. Oleh karena itu, ia menilai bahwa keberadaan tugu tersebut sudah tidak lagi relevan di tengah situasi politik saat ini. Pernyataan ini disampaikan Faiz usai menggelar aksi demonstrasi di depan gerbang belakang Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Maret 2025.
Kekecewaan Terhadap Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto
Faiz menyampaikan bahwa pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menghancurkan cita-cita reformasi. Salah satu indikator utama yang disoroti adalah pengesahan Revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Revisi ini dinilai membuka kembali ruang dominasi militer dalam kehidupan sipil, sebuah praktik yang sudah ditinggalkan sejak reformasi bergulir pada 1998. Menurut Faiz, revisi UU TNI itu mencederai amanat reformasi yang seharusnya membatasi peran militer hanya pada urusan pertahanan negara, bukan merambah ke ranah sipil.
Ia juga menilai bahwa pemerintahan Prabowo tidak menunjukkan komitmen untuk melanjutkan semangat reformasi. Pemerintah justru dinilai membiarkan prinsip-prinsip demokrasi dilemahkan dan ruang partisipasi masyarakat sipil semakin menyempit.
Makna Tugu Tragedi 12 Mei yang Kini Dipertanyakan
Monumen Tragedi 12 Mei 1998 awalnya dibangun untuk mengenang empat mahasiswa Trisakti yang gugur dalam aksi menuntut reformasi: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Tugu tersebut berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Baru, sekaligus pengingat atas pentingnya menjaga semangat reformasi di masa depan.
Namun, Faiz berpendapat bahwa monumen itu kini telah kehilangan makna. Ia menilai simbol reformasi itu telah berubah menjadi simbol kemunafikan karena nilai-nilai yang diwakilinya justru telah diabaikan. Dalam pandangannya, selama pemerintahan yang ada saat ini melanjutkan praktik militeristik, keberadaan tugu tersebut hanya menjadi pengingat luka lama yang semakin terbuka.
Rencana Pengajuan Surat Resmi ke Pemprov DKI Jakarta
Dalam waktu dekat, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Trisakti berencana mengirim surat resmi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Surat tersebut berisi permintaan agar monumen itu dibongkar. Faiz menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk simbolik dari kekecewaan generasi muda, khususnya mahasiswa Trisakti, terhadap pemerintah yang telah mengabaikan amanat reformasi. Ia juga menyebutkan bahwa tuntutan tersebut akan diperkuat dengan aksi-aksi lanjutan apabila tidak mendapat tanggapan dari pemerintah daerah.
Faiz menambahkan bahwa pihaknya sudah menyiapkan berbagai dokumen dan kajian yang menjadi dasar pengajuan pembongkaran tugu. Mereka juga akan melibatkan elemen mahasiswa lainnya agar suara mereka semakin kuat didengar.
Kritik Keras terhadap Penguatan Peran Militer dalam Pemerintahan
Faiz menyoroti bahwa pascareformasi, Indonesia seharusnya menempatkan militer di bawah kendali sipil secara penuh. Namun, dengan adanya revisi UU TNI, batasan tersebut dianggap telah dilanggar. Ia memperingatkan bahwa keterlibatan militer dalam urusan sipil berpotensi membungkam kebebasan sipil, mempersempit ruang demokrasi, dan mengembalikan praktik kekuasaan yang represif.
Menurutnya, penguatan militer dalam berbagai sektor non-pertahanan sangat bertentangan dengan cita-cita reformasi. Ia mengingatkan bahwa sejarah kelam Orde Baru adalah akibat dari dominasi militer dalam pemerintahan, dan hal itu tidak boleh terulang kembali.
Mahasiswa Trisakti Nyatakan Kemarahan dan Kekecewaan
Dalam pernyataannya, Faiz menyampaikan bahwa mahasiswa Trisakti, sebagai salah satu simbol gerakan reformasi, merasa marah dan dikhianati. Ia mengatakan bahwa perjuangan mahasiswa pada tahun 1998 yang mengorbankan nyawa sahabat-sahabat mereka kini terasa sia-sia. Pemerintah dianggap tidak menghargai pengorbanan tersebut dan gagal menjaga semangat perubahan yang dahulu diperjuangkanFaiz juga
menyerukan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia untuk kembali bersuara dan menjaga warisan reformasi yang kini terancam hilang. Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa akan terus mengawal demokrasi dan melawan segala bentuk otoritarianisme, termasuk kembalinya dominasi militer dalam pemerintahan.