ratughibah – Karawang – Duka mendalam tengah menyelimuti keluarga Mahfud di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Putri mereka, Susanti (29), seorang pekerja migran Indonesia (PMI), saat ini menghadapi ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Keluarga besar Susanti meminta campur tangan serius dari pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan nyawa anak mereka.
Jeritan Hati Seorang Ayah yang Ingin Keadilan
Mahfud, ayah Susanti, tak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika menyampaikan permintaan bantuan kepada pemerintah. Ia berharap pemerintah Indonesia bertindak cepat untuk melindungi putrinya yang saat ini sedang menjalani proses hukum di negara Timur Tengah tersebut.
“Kami mohon dengan sangat agar pemerintah turun tangan. Tolong bantu anak kami. Kami yakin dia tidak bersalah,” ujar Mahfud dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya di Karawang, Selasa (18/3/2025).
Menurut Mahfud, tuduhan yang menimpa Susanti sangatlah berat. Ia didakwa melakukan pembunuhan terhadap majikannya, namun keluarga di Tanah Air meyakini bahwa Susanti tidak pernah melakukan tindakan keji seperti yang dituduhkan.
“Saya tahu betul siapa Susanti. Sejak kecil, dia anak yang baik, penyayang, dan tidak pernah menyakiti siapa pun. Tidak mungkin dia melakukan hal itu,” lanjutnya.
Kronologi Versi Keluarga: Dari Harapan Menjemput Rezeki hingga Ancaman Hukuman Mati
Susanti berangkat ke Arab Saudi dua tahun lalu dengan harapan memperbaiki perekonomian keluarga. Sebagai anak sulung, ia merasa bertanggung jawab membantu orang tuanya dan membiayai pendidikan adik-adiknya.
Di awal keberangkatannya, komunikasi antara Susanti dan keluarga berjalan lancar. Ia sering mengabarkan kondisi kerjanya yang cukup baik. Namun, beberapa bulan terakhir, pihak keluarga mulai jarang mendapatkan kabar darinya, hingga akhirnya dikejutkan oleh informasi bahwa Susanti ditahan oleh otoritas setempat atas dugaan pembunuhan.
“Kami awalnya tenang karena dia sering kasih kabar. Tapi tiba-tiba kami dengar berita ini. Rasanya seperti petir di siang bolong,” ungkap Mahfud.
Harapan Besar kepada Pemerintah Indonesia
Keluarga Susanti mengaku sudah menghubungi berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap nasib PMI, namun sejauh ini belum ada perkembangan signifikan. Karena itu, mereka menaruh harapan penuh kepada pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI di Arab Saudi.
“Harapan kami cuma satu, pemerintah mau serius bantu. Jangan sampai anak kami jadi korban ketidakadilan,” ujar Mahfud lirih.
Ia juga meminta adanya pendampingan hukum yang memadai untuk putrinya. Menurut keluarga, Susanti sangat membutuhkan bantuan pengacara yang bisa membelanya di persidangan yang akan menentukan hidup matinya.
Pemerintah Daerah Turut Memantau
Pemerintah Kabupaten Karawang disebut sudah mengetahui kasus ini dan berjanji akan membantu sebisa mungkin. Kepala Dinas Tenaga Kerja Karawang mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri untuk memastikan hak-hak hukum Susanti dipenuhi.
“Kami telah menyampaikan semua data kepada Kementerian Luar Negeri, dan terus berkomunikasi agar ada upaya hukum terbaik untuk Susanti,” kata perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja Karawang.
Suasana Haru di Rumah Keluarga
Di rumah sederhana milik Mahfud, suasana haru menyelimuti keluarga besar. Ibu Susanti terlihat sering menangis dan enggan memberikan komentar apa pun kepada media. Tetangga dan kerabat bergantian datang memberikan dukungan moral.
“Kami semua warga di sini berdoa agar Susanti bisa selamat. Dia anak yang baik, ramah, dan tidak pernah macam-macam,” ujar seorang tetangga.
Harapan Akan Keadilan dan Perlindungan WNI di Luar Negeri
Kasus Susanti kembali mengingatkan banyak pihak akan pentingnya perlindungan maksimal bagi WNI yang bekerja di luar negeri. Pemerintah diharapkan memperkuat diplomasi dan pendampingan hukum bagi para pekerja migran yang menghadapi masalah hukum berat di negeri orang.
Bagi Mahfud dan keluarganya, waktu terus berjalan, dan mereka hanya bisa menunggu dengan harapan ada keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa putri tercinta mereka.
“Kami hanya ingin anak kami pulang dengan selamat. Itu saja permintaan kami,” ucap Mahfud dengan suara bergetar.